Tampilkan postingan dengan label Cerita Novie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Novie. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Agustus 2015

Review: Love, Lemon, And The Last Kiss

Kalau Anda termasuk yang mengagungkan cinta sejati,
Kalau Anda termasuk yang mengagungkan kesetiaan,
Kalau Anda termasuk yang mengagungkan cinta tanpa syarat...,
Novel ini layak Anda baca.

Love, Lemon, And The Last Kiss

Novel yang ditulis oleh Ida Ernawati ini, menurut saya bagus, Kenapa saya bilang begitu?

Karena jalan ceritanya tidak mudah ditebak, tokoh utama yang awalnya saya benci tapi kemudian jadi respek, dan mampu membuat saya menangis di akhir cerita (nangis itu barometer paling penting, wkwkwkwk).

Sebagai orang yang mengikuti terus novel-novel Ida Ernawati, saya lihat gaya bertuturnya selalu ada peningkatan. Yang terakhir ini, sangat enak dibaca dibandingkan dua novel pertama (Cinta Grey Area & Bienvenue Amor). Yang terakhir ini juga jalan ceritanya lebih bisa mengaduk-aduk perasaan dibanding 3 novel yang terdahulu (Cinta Grey Area, Bienvenue Amor, & Meniti Hati).

Yang juga menarik adalah soal bagaimana Ida Ernawati mencoba menceritakan detil yang akhirnya bisa memunculkan gambaran dalam kepala kita.

Kalau sebelum-sebelumnya, saya selalu kagum dengan detil fashion yang disampaikan oleh penulis. Gaya berpakaian, pilihan sepatu, dan bahkan asesoris. Saya pikir akan menemukan hal sama di novel keempat ini, tapi ternyata tidak banyak.

Justru yang banyak adalah detil tempat, lokasi, bahkan interior dan eksterior bangunan. Surprise banget, dan senang karena pembaca (baca: saya) seperti ikut "hadir" dalam cerita itu.

Satu yang mengganggu saya dalam novel ini. Ketika tokoh utama, Delia, "mendengar" suara kalau Socha merestui. Dan terakhir terungkap kalau Socha sempat bangun dari tidur panjangnya dan mengatakan pada Ardan bahwa Delia adalah perempuan yang tepat.

Duuuh, menurut saya ini sinetron banget. Hal-hal yang penuh kebetulan itu ciri khas sinetron. Padahal tanpa ditambahkan cerita "restu" Socha, akan lebih natural.

Well, yang pasti novel ini pantas dijadikan teman weekend di rumah sambil menikmati kopi atau kue kering sisa lebaran kemarin, qeqeqeq...

Minggu, 07 Juni 2015

Tips mengajar anak belajar

Saya mengajar sendiri untuk Pijar mulai dari membaca, berhitung, dan menulis.

Sampai ketika sudah memasuki masa SD, masih saya tangani sendiri belajarnya :)

Kadang sampai kepikiran, bagaimana bisa membuat dia paham :)

Ujung2nya ibu juga yang dituntut untuk kreatif. Saya membuat beberapa alat peraga sederhana untuk memudahkan belajar ;)

1. Kotak parfum, saya gunakan untuk menjelaskan bangun ruang kubus dan balok

2. Setiap kali nonton acara di Disney Channel, dia selalu nanya, Monday itu kapan? Tuesday itu kapan?

Akhirnya saya bikinkan catatan biar dia bisa lihat sendiri, hehehe... Alhamdulillah, lama2 dia sudah hafal

3. Di kamarnya, agar dia hafal urutan angka, saya buatkan deretan angka dengan krayon warna warni (lihat tanda panah)

4. Saya juga bikin kartu yang bertuliskan angka untuk belajar mengurutkan angka dari yang terkecil atau yang terbesar

Hehehe..., ribet ya bu?

Kalau saya bilangnya fun :)

Ibu punya pengalaman apa nih?

Rabu, 03 Juni 2015

Senin, 01 Juni 2015

Jika anak menghadapi ujian


Ini sepertinya lebih banyak terpakai pada anak yang masih usia SD :) Lagi-lagi, ini menurut pengalaman saya yaa...

Jujur, awal-awal Pijar masuk SD, saya merasa keteteran. Saya nggak tau juga harus bagaimana baiknya belajar.

Kalau idealnya kan, pulang sekolah mengerjakan PR dan mengulang pelajaran hari itu. Setelah itu istirahat siang. Malamnya belajar pelajaran esok hari.

Tapiii..., ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan deh, hehehe...

Pulang sekolah, Pijar sudah capek banget. Lapar, ngantuk, nggak konsentrasi dan nggak ada tenaga untuk mengerjakan PR apalagi mengulang pelajaran hari itu.

Malamnya, belajarnya jadi numpuk-numpuk. Mengerjakan PR, mengulang pelajaran, sampai harus mempersiapkan pelajaran besoknya.

Stress! Pijar jadi nggak bisa konsentrasi. Dan parahnya, saya jadi tidak sabar, akhirnya marah-marah :( Sedih bangeeet...

Dari situ akhirnya saya mengevaluasi cara saya :D Cara ini bisa juga diterapkan saat anak (SD) akan menghadapi ujian.

1. Periksa pelajaran hari itu.
Setiap Pijar pulang sekolah, saya lihat bukunya. Apa saja yang sudah dipelajari hari ini.

Saya tanyakan ke Pijar, mana yang belum bisa? Kalau memang ada, maka saya jadikan catatan untuk lebih intensif menjelaskan atau memberikan latihan saat belajar mata pelajaran tersebut.

2. Kerjakan PR.
PR tetap dikerjakan sepulang sekolah. Mengapa? Agar malamnya tidak terlalu lama waktu untuk belajar dan mengerjakan PR.

Selain itu, mengerjakan PR di hari yang sama dia dapat, memperkecil kemungkinan untuk lupa :D

3. Latihan soal.
Jika akan ujian, biasanya saya jauh-jauh hari sudah mengecek apa saja yang belum dikuasai Pijar.

Setelah itu, saya buatkan latihan maksimal 10 soal, rutin setiap hari sampai dia menguasai atau sampai hari H ujian.

4. Menyicil belajar.
Sama seperti latihan soal, menyicil belajar memudahkan Pijar menghadapi ujian. Jadi, malam sebelum ujian, tidak akan banyak latihan lagi.

Biasanya 2 minggu sebelum ujian saya sudah memberikan jadwal belajar khusus untuk ujian. Namanya juga dicicil, latihannya tidak perlu terlalu banyak sehingga tidak memberatkan.

5. Berdoa.
Saya selalu mengajak Pijar untuk berdoa sebelum ujian agar lancar. Tentunya secara khusus, saya sebagai ibunya juga mendoakan agar diberi kelancaran dalam mengerjakan :)

6. Ikhlas.
Setelah semua ikhtiar yang sudah dilakukan, saatnya tawakkal.

Saya selalu menekankan pada Pijar, bahwa saya tidak memintanya untuk mendapat nilai sempurna atau bahkan ranking 1 di kelas atau di sekolah. Yang paling penting adalah Pijar mengerti pelajaran tersebut.

Semoga bermanfaat yaa...

Kamis, 28 Mei 2015

Tips bekerja dari rumah


Tips ini diberikan berdasarkan pengalaman saya sendiri, yaa.. :)

Karena sudah melakukan sejak beberapa tahun yang lalu, maka saya sedikit banyak tau cara menyiasati agar bisa tetap bisa "bekerja" meskipun dari rumah.

Mengapa harus disiasati?
Ya iya lah, kan kalau di rumah, saya juga harus menyelesaikan berbagai pekerjaan domestik dan tentunya juga mengasuh anak :D

Jadi kalau tidak disiasati, tentunya energi akan banyak terkuras dan bisa-bisa "pekerjaan" (baca: bisnis) saya sama sekali tidak tersentuh.

Baiklah, ini dia tips dari saya :)

1. To Do List (TDL)
Wajib disiapkan selambat-lambatnya setelah sholat Subuh :D Lebih bagus kalau sudah siap malam sebelumnya.

Biasanya saya tulis semua yang harus saya kerjakan hari itu. Pekerjaan domestik dan bisnis. Setelah tertulis semua, saya pisahkan yang bisnis.

Saya uraikan kembali TDL Bisnis, apa yang harus saya kerjakan hari itu. Mulai dari prospecting sampai mengajari downline baru soal Success Plan.

Jangan lupa untuk memberi waktunya yaa... :)

2. Mandi
Penting! Karena merasa di rumah saja, kadang kita melupakan yang ini, hehehe...

Mandi pagi itu membuat saya merasa segar dan siap untuk beraktifitas.

Selain itu, jika tetiba ada keperluan yang mengharuskan saya keluar rumah dan bertemu orang, saya sudah tida terburu-buru lagi :D

3. Meja Kerja
Tentunya juga akan lebih konsentrasi kalau kita mengerjakan bisnis dari rumah di meja sendiri.

Setting meja kerja sesuai dengan style kita agar membuat lebih semangat.

Meja kerja juga membuat saya jadi lebih disiplin, tidak harus berpindah-pindah tempat.

4. Minum
Persis seperti kerja di kantor, sediakan botol minuman atau camilan di meja kerja.

Mengapa?
Supaya tidak perlu bolak-balik ke dapur hanya untuk ambil minum atau buka kulkas. Aktifitas itu sepele, tapi bisa mengacaukan konsentrasi.

5. Istirahat
Bekerja dari rumah memang fleksibel, tapi kalau tidak disiasati, pekerjaan domestik atau bisnis sepertinya tidak akan ada habisnya.

Ujung-ujungnya kita merasa kehabisan waktu. Padahal waktu tidak pernah habis :D

Makanya saya butuh istirahat, butuh jeda. Biasanya saya memilih tidur siang sekitar 1-2 jam.

Kira-kira itu yang saya lakukan setiap hari saat bekerja dari rumah. Semoga bermanfaat.

Jumat, 22 Mei 2015

Mengadu pada Allah

Pagi ini diingatkan Allah. Bahwa masalah yang saya hadapi masih ada yang lebih berat diberikan pada orang lain.

Astaghfirullahaladziim :(
Berawal dari "perasaan" yang menurut saya telah teraniaya. Pingin banget untuk curhat dengan orang lain.

Sayangnya saya bukan termasuk orang yang gampang untuk bercerita masalah pribadi pada orang lain.

Meskipun rasanya pingiiiin banget, tapi takut jika orang tersebut tidak amanah dan menceritakan pada yang lain. Malu.

Makanya, saya memilih untuk mengadu pada Allah. Berkeluhkesah pada Allah. Yang saya yakin jauh lebih aman dan terpercaya. Tidak ada rasa khawatir.

Tapi, setelah mengadu pada Allah, saya juga tetap malu :(

Setelah menangis-nangis di atas sajadah, saya berangkat ke pengajian di sekolah Pijar. Di situ, ustadznya minta doa untuk 3 orang kerabatnya yang sakit.

Saya merasa "tertampar". Ya Allah, masalah saya ini tidak ada apa-apanya dibanding dengan kerabat sang ustadz. Bahkan mungkin masalah saya ini remeh temeh. Tapi, saya nangisnya udah kayak menderita sedunia :((

Ampuni saya, ya Allah... Lindungi hamba dan keluarga dari segala penyakit hati, dari segala godaan, dan mara bahaya. Aamiin..

InsyaAllah, mulai sekarang ga dikit-dikit mengeluh... banyakin aja istighfar... Semoga saya bisa istiqomah... Aamiin...

Rabu, 20 Mei 2015

Tips menghadapi orang yang suka omong di belakang

Kalau tau ada yang ngomongin jelek di belakang, mending diam aja yaa... :D

Karena kalau menurut saya, jika kita ikutan ngomong dan sibuk untuk melakukan pembenaran/pembelaan, nanti mereka akan menilai bahwa kita beneran jelek...

Kalau kita merasa cakep, mereka bakal tau sendiri kok tanpa perlu kita berbusa-busa bilang bahwa kita enggak jelek :D

Jumat, 15 Mei 2015

Deja Vu


Pernaaaah..., duluuuu, pas masih kuliah juga poto pake pose kayak gini, hihihi...

Sayangnya fotonya ada di Surabaya, dan ga punya file nya :D

Rabu, 13 Mei 2015

Horee... Aku sudah Manager 12%!

Alhamdulillah, sudah melewati level ini :)

Masih terbayang betapa senengnya meraih level manager awal ini di Oriflame. Bonus juga sudah sangat lumayan :D

Setelah melewati level ini, tantangannya tidak menjadi mudah lhooo... Sama seperti kita bekerja di kantor, level manager tentunya tanggung jawabnya juga makin besar.

Bagaimana dengan di Oriflame? Tantangannya adalah mempertahankan semangat jaringan dan terus merapatkan barisan, hehehe... Memotivasi partner bisnis agar bisa segera menyusul ke level manager.

Insya Allah, kalau ikhlas bantuin partner bisnis, level kita juga ikut naik kok ;)

Anda juga mau berproses bersama saya dan jaringan saya untuk meraih level manager?

Ada caranya, yang kalau dilakukan hasilnya bisa berbeda-beda, hihihi...
Kalau santai, yaaa datangnya juga santai...
Kalau gigih, ngebut, ya datangnya juga cepet... :D

Mau tau, berapa yang didapatkan saat Anda ada di level Manager 12%? Ini dia...


Mau seberapa cepat Anda meraihnya, semuanya tergantung usaha Anda :)

Mau nanya-nanya dulu? Boleh... ;)
WA: 085257258732 | Pin BB 743AA52B


Senin, 11 Mei 2015

Referensi Buku: Aku Edisi Baru

Awalnya penasaran, karena status-status penulisnya :D

Begitu buka bukunya, langsung ketawa sendiri hahaha...

Ketawa baca kata-kata  pembatas bukunya...
"HATERS ITU sebetulnya FANS yang belum INSYAF!" wkwkwk

Pas dijadiin teman long weekend dan bisa nge-charge semangat untuk jadi edisi baru :)

Buku ini masuk kategori buku motivasi atau self help book yaa...

Ga banyak hal baru tapi untuk yang butuh semangat, bisa membantu :)

Gaya bahasanya ringan dan banyak menceritakan pengalaman penulisnya, Meuthia Rizki

Sabtu, 09 Mei 2015

Bisnis Oriflame buatku adalah...

* Tempat berbagi hal positif dengan sesama Oriflamer

* Tempat berbagi semangat dengan partner bisnis (baca: upline dan downline)

* Sarana untuk mewujudkan impian bekerja dari rumah

* Tempat untuk mendapatkan penghasilan bagi ibu rumah tangga seperti saya

* Tempat berlatih untuk terus membantu sesama


Lalu..., bagaimana bisa?


> Bisa, karena sejak jalanin Oriflame, saya belajar banyak untuk bikin status yang positif :D

> Bisa, karena sejak jalanin Oriflame, saya selalu mendapat semangat dari para upline :D

> Bisa, karena sampai sekarang, Oriflame bisa membuat saya nyaman bekerja dari rumah :D

> Bisa, karena saya sudah buktiin, tiap bulan ditransfer uang hasil kerja oleh Oriflame :D

> Bisa, karena saya tidak akan ada di level sekarang jika saya tidak terus membantu downline saya untuk naik level juga :D


Kalau mau diteruskan, mungkin akan masih nambah list nya, hehehe...


Tertarik? :)
WA: 0852.5725.8732
Pin BB 743AA52B
www.Solusi-Ibu.com

Rabu, 06 Mei 2015

Mencegah kekerasan seksual pada anak



Sudah mulai banyak kampanye tentang tolak kekerasan seksual pada anak.

Anak diajarin pencegahannya, jangan mau kalau dipegang bagian mulut, dada, kemaluan, dan pantat oleh orang lain selain ortu dan dokter yang harus ada ortu didekat si anak.

Sepertinya bukan cuma anak yang harus dikasih tau, tapi juga pihak2 yang sering berhubungan dengan anak. Mulai kakek/nenek, om/tante, pengasuh/ART, dan bahkan guru.

Semoga anak-anak kita terhindar dari segala mara bahaya. Aamiin.

Senin, 04 Mei 2015

Membentuk moral anak

Waktu ‪#‎Pijar‬ belajar jalan, dan sering terjatuh, saya menghindari untuk memukul lantai atau memukul mainannya yang buat dia jatuh...

Waktu Pijar sudah mulai masuk usia sekolah, SD tepatnya, ketika dia berselisih paham dengan teman-temannya, saya hanya menawarkan solusi.

Saya biarkan dia belajar menyelesaikan sendiri. Selama itu tidak menyangkut fisik, saya cukup dapat laporan saja.

Waktu Pijar ingin mainan, saya berikan dia syarat. Jika dia mampu, maka akan saya berikan yang dia mau.

Mungkin ini belum sempurna, tapi semoga yang tidak sempurna ini bisa jadi bekal jika Pijar sudah dewasa.

Tidak mudah menyalahkan orang lain.
Tidak mudah iri hati jika temannya lebih mampu.
Memilih cara yang baik untuk mencapai tujuannya.

Kamis, 01 Januari 2015

Tragedi Air Asia QZ8501

Sedih di penghujung tahun 2014 ada tragedi jatuhnya pesawat Air Asia yang berangkat dari Surabaya menuju Singapura. Minggu pagi tepatnya tanggal 28 Desember tiba-tiba terjadi kepanikan di seluruh negeri. 

Pesawat yang membawa 155 penumpang dan 7 awak petugas hilang kontak dan baru ditemukan 3 hari kemudian di perairan dekat selat Karimata. Semoga arwah mereka mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT, aamiin.

Sejak saya pindah dari Surabaya ke Jakarta, paling tidak setahun sekali atau dua kali menggunakan jasa penerbangan. Setiap kali menggunakan transportasi pesawat, memang ada rasa was-was, rasa takutnya melebihi jika saya menggunakan transportasi darat.

Makanya suka ga kebayang jika harus sampai berjam-jam ada di dalam pesawat :( Satu jam perjalanan Jakarta - Surabaya saja sudah berasa lama.

Kakak ipar saya adalah petugas ATC (Air Traffic Controller) di bandara. Dia suka cerita kalau traffic di Bandara Soekarno Hatta saat siang sampai sore padat banget. Jadi mending kalau menuju ke Bandara Soekano Hatta cari flight pagi-pagi banget atau malam sekalian.

Sayangnya cuaca pada pagi atau malam hari kadang tidak bisa diprediksi baik atau buruknya yaa... Kemarin pesawat Air Asia QZ8501 berangkat pagi dan kebetulan cuacanya sedang tidak baik.

Paling tidak ini menjadi catatan bagi diri saya sendiri jika ingin menggunakan transportasi udara. Jika musim hujan, saya lebih memilih menggunakan kereta api untuk perjalanan jarak jauh. Atau kalau tidak bisa dijangkau dengan kereta, lebih baik ditinjau kembali perjalanannya, mungkin masih bisa ditunda di musim kemarau.

Seandainya harus bepergian di musim hujan, saya lebih memilih perjalanan dilakukan di siang hari jika menggunakan pesawat.

Semoga kita semua selalu mendapat perlindungan dari Allah SWT, aamiin.

Selasa, 30 Desember 2014

Resolusi Tahun 2015

Akhirnya saya sudah selesai bikin resolusinyaaa.... Tentunya dengan harapan akan tercapai semuanya, aamiin... :)

Jadi ada beberapa jenis resolusi yang dibuat. Masing-masing enggak berani banyak-banyak, takut enggak tercapai, hihihi... Kalau nggak tercapai, sakitnya tuh di sini *nunjuk dada :D


Resolusi Akhlaq (hihihi..., ga nemu kata yang keren selain ini :p )
1. Sholat Tahajud
2. Sholat Dhuha
3. Mengaji
4. Zakat/Infaq

Resolusi Keluarga
1. Beli Rumah
2. Liburan bertiga ke Bandung 

Resolusi Bisnis
1. Jualan jilbab
2. Senior Manager Oriflame di bulan April

Resolusi Aktifitas
1. Rajin ngeblog
2. Bikin cerpen
3. Bikin YouTube dongeng
4. Bikin SoundCloud siaran

Katanya biar cepat tercapai harus spesifik ya nulisnya... :) Okeh, tapi nggak di sini. Cukup coret-coretan pribadi aja yang paling lengkap, hehehe...

Semoga semuanya saya bisa jalanin dengan istiqomah hingga tercapai keinginan di tahun 2015 ini. Aamiin...

Minggu, 28 Desember 2014

Tahun Baru

Rasa itu selalu muncul di hari-hari akhir menjelang tahun baru. Kalau di tanyanya, rasanya seperti gimana? Jujur, enggak tahu seperti gimana.

Campur aduk. Rasa kecewa bercampur dengan harapan. Keduanya diaduk dan menghasilkan rasanya yang.... Sumpah! Enggak enak.

Kecewa karena merasa target belum tercapai dan beneran menyesal, kenapa nggak diselesaikan :'(

Berharap banget target-target yang belum terselesaikan tahun ini akan tuntas di tahun baru.

Akhirnya cuma bisa berdoa saja agar diteguhkan hati untuk berjuang sampai titik darah penghabisan demi tercapainya cita-cita, hehehe...

Moga-moga saya berani untuk menuliskan apa saja yang ingin saya capai di tahun 2015. Nggak cuma dipantengin sendiri, tapi coba ditulis di blog.

Siapa tau, banyak yang membaca dan banyak yang mengaminkan cita-cita saya, sehingga bisa cepat tercapai. Aamiin... :)

Selasa, 23 Desember 2014

Tulisan penyemangat

Ga ada alasan yang dibenarkan, apa pun, jika lebih dari setahun ga nge-blog, hahaha...

Karena alasan utama sebenarnya, em-a-el-a-es, MALAS! Nah kan, alasan yang jelas-jelas salah.

Apakah setelah ini saya akan rajin nge-blog? well, i don't know... qeqeqeq... Tapi mari kita berharap yang baik-baik saja yaaa... :)

Tulisan ini hanya sebagai permulaan, pemancing, semoga besok dan besok dan besok dan besoooooknya lagi saya akan rajin nge-blog, aamiin O:)

Jumat, 24 Mei 2013

Nonton film drama

Dulu waktu masih pacaran, paling sebel kalau pasangan ga mau diajak nonton film drama di bioskop. Rasanya ga adil. Kalau setiap ke bioskop nontonnya film action terus.

Bukannya enggak suka action, cuma ini masalah keadilan aja :D Mantan pacar saya beranggapan kalau nonton drama ga perlu di bioskop, cukup di rumah aja nonton DVD, kan ga perlu efek suara yang dahsyat.

Baiklah..., alasannya cukup meyakinkan :D Sekarang, ketika sudah berumah tangga dan punya anak, frekuensi ke bioskop juga otomatis berkurang, bahkan enggak pernah sama sekali sampai Pijar umur 3-4 tahunan. Jadi silang pendapat soal nonton drama di bioskop ikutan mereda.

Jadi nonton filmnya diganti nonton DVD atau dari TV kabel di rumah. Kalau nonton action sama pasangan, nunggu Pijar tidur. Kalau nonton drama, nunggu pasangan dan Pijar tidur, hehehe...

Nah, sekarang, ketika Pijar sudah bisa diajak nonton bioskop, keinginan untuk nonton drama di bioskop otomatis jadi menghilang, hiks! Sudah keenakan nonton drama di rumah.

Karena ternyata memang lebih menyenangkan nonton drama di rumah. Kita mau terbawa emosi sampai nangis-nangis juga ga akan ada yang ngeliat :D Coba kalau di bioskop, film kelar, yang ada malah malu karena mata bengkak, hihihi...

Kalau nonton drama tanpa mengeluarkan air mata rasanya kurang menarik. Dulu, Pijar agak panik waktu tau saya menangis di akhir cerita. "Ibu kenapa? sediih?" tanyanya. Saya jawab, "enggak, ibu terharu.." :p

Sekarang kalau Pijar melihat saya menangis setelah nonton film drama, dia sudah langsung bilang, "Ibu terharu, ya?" xixixi...

Senin, 18 Februari 2013

Ibu kerja di rumah a.k.a. ibu rumah tangga

Apa tujuanmu bersekolah sampai setingi-tingginya? Untuk bekerja di sebuah perusahaan dengan mendapatkan gaji tinggi? Untuk membuka usaha dan membuka lapangan pekerjaan?

Adakah yang menjawab, untuk menjadi ibu rumah tangga yang pintar memanage rumah tangga dan mengasuh serta mendidik anak-anak? Tidak ada. Atau mungkin jarang banget.

Ketika ada yang tidak pernah mengenyam pendidikan dan kemudian sukses secara finansial, semua orang angkat topi dan menjadikannya motivator. Tapi kenapa ketika ada yang berpendidikan tinggi (bergelar S1 bahkan S2) dan memilih menjadi ibu rumah tangga banyak yang mencemooh?

Buat apa sekolah tinggi-tinggi jika cuma jadi ibu rumah tangga? Buat apa sekolah tinggi-tinggi jika cuma di rumah mengasuh anak? Jadi ibu rumah tangga tidak perlu jadi sarjana. Sedih banget ketika masih ada yang berpikir seperti itu :(

Jadi ibu rumah tangga itu juga kudu pinter biar anak-anaknya juga pinter. Jadi ibu rumah tangga itu kudu pinter biar bisa memutuskan kapan waktunya berinvestasi.

Menjadi ibu yang bekerja pun suatu prestasi tersendiri, tapi menjadi ibu rumah tangga juga nggak bisa diremehkan :) Apalagi di era socmed sekarang ini, ibu rumah tangga tetap bisa eksis dan berkomunikasi dengan teman-teman yang lain.

Saya S1, indeks prestasi (IP) saya ga pernah dibawah 3, saya menikmati menjadi ibu rumah tangga. Saya sendiri yang mengajarkan membaca, berhitung, dan mengaji ke Pijar :) Saya yang menjawab semua pertanyaan pertama Pijar tentang alam semesta, tentang Tuhan, dan mendengar ceritanya sepulang dia sekolah atau bermain. Saya juga masih sempat mengisi waktu dengan 'bermain' facebook, twitter, dan ngeBlog :)

Saya juga memanfaatkan fasilitas online yang saya miliki untuk menghasilkan uang hanya dari rumah. Jadi, kata siapa jadi ibu rumah tangga cuma segitu-gitu aja? Saya enggak, tuuuh... ;)

Senin, 17 Desember 2012

Suara hati ibu mertua

Di salah satu milis perempuan yang saya ikuti, pernah ada yang sharing permasalahan dengan mertuanya. Sebenarnya selain di milis, saya juga sering sih baca di majalah, dengar cerita, atau bahkan menonton film yang menunjukkan tentang ketidakakuran antara mertua dengan menantu.

Dalam tulisan ini, yang saya maksud adalah ibu mertua dengan menantu perempuannya yaa... ;) Biasanya yang menjadi pokok permasalahan adalah soal pengasuhan anak, manajemen rumah tangga, sampai dengan hal remeh temeh misalnya pemilihan warna gordyn :p

Selama ini yang saya dengar, lihat, dan baca adalah si menantu yang merasa privacy-nya dilanggar oleh sang ibu mertua. Merasa berhak untuk mengendalikan anak, suami, dan rumah tangganya. Merasa tidak perlu nasihat jadul yang nggak masuk akal dalam pengasuhan anak :D

Memang tidak salah dengan hal itu. Justru bagus kalau menurut saya. Saat kita sudah memutuskan untuk menikah dan kemudian punya anak, kita harus belajar mandiri dan belajar menyelesaikan semua permasalahan rumah tangga kita sendiri.

Apalagi sekarang akses informasi begitu terbuka lebar. Social media dan media online begitu mudah untuk diakses. Jika kita butuh informasi tentang kesehatan, keuangan, pendidikan, sampai dengan resep masakan tinggal tweet tanya ahlinya atau browsing, beres.

Tapiii tetep saja yang namanya orangtua (baca: ibu mertua) lebih dulu punya pengalaman yaa..., lebih dulu merasakan apa yang kita alami sekarang ini. Jadi wajarlah, jika mertua merasa perlu memberi 'nasihat' meski nggak diminta, hehehe...

Ini yang bikin hubungan antara mertua dengan menantu jadi nggak akur. Mertua merasa paling tau, menantu merasa sudah banyak tau, hahaha..

Dari semua yang menanggapi sharing salah satu sahabat di milis yang bermasalah dengan ibu mertuanya, rata-rata berpihak dengan sang menantu yang memintanya untuk tegas pada mertua. Tapi ada salah satu email tanggapan yang menarik perhatian saya.

Email ini dari anggota milis yang sudah mempunyai menantu alias posisi dia sebagai ibu mertua. Dia bilang, "memang tidak seharusnya seorang mertua mencampuri urusan rumah tangga anak-anaknya apalagi sampai membuat jengkel menantunya. Tapiii, saya sebagai mertua juga jengkel lhooo sama menantu yang kalau dikasih tau selalu lebih percaya mbah Google ketimbang saya." Nah lho! :D